Jati Indah Furniture. Diberdayakan oleh Blogger.

Open

Workshop

Jl Raya Jepara - Bangsri KM 11, Ds Lebak RT 04/03 Kecamatan Pakis Aji , Kabupaten Jepara provinsi Jawa Tengah - 59452
Call +6285325087158
Sms +6285325087158
Pin BB 5D59D50F
Instagram : @Juan.jatiindahfurniture
Email Info.jatiindahfurniture@gmail.com

My Produc

Live Trafic

Marketing Blogs
blog directory PageRank Checking Icon Medical Software

Free SEO Tools

Produksi

Produksi

Proses Finishing

Proses Packing

Proses Packing

Proses Packing

Proses Pengiriman

rencana pemindahan ibukota indonesia

KEANGKUHAN Jakarta sebagai ibukota Indonesia menguap tiba-tiba, karena banjir. Sebagai wacana (karena belum pernah ditindaklanjuti), penyebab banjir adalah lenyapnya resapan air, terutama di daerah Puncak dan Bogor.

Gubernur Sutiyoso menyatakan banjir di Jakarta sebagai siklus lima tahunan. Pada awal jabatan keduanya (dimana Jakarta juga dilanda banjir), pernyataan tersebut terdengar dapat dimaklumi. Kini, pernyataan bak alasan ketidakmampuan pemerintah mengatasi banjir kehilangan relevansinya.

Kalaupun memang benar siklus lima tahunan, berarti Sutiyoso telah mengetahui bahwa dalam kurun 5 tahun akan selalu terjadi banjir bandang.

Sungguh mengherankan, bagaimana daerah seperti Jakarta yang bukan pelosok dan setiap sudutnya mudah terjangkau (plus fasilitas apa pun ada) ternyata para korban banjir tetap menderita, terutama kelaparan akibat minimnya bantuan.

Paparan antisipasi banjir di kota Praha, ibukota negara Ceko, oleh Eep Syaifulloh Fatah (Kompas, 6/02) menarik jadi bahan perbandingan. Pemerintah kota menyadari Praha yang dibelah sungai Vltava secara periodik akan "dikunjungi" banjir.

Begitu sungai meluap, daerah rawan banjir diisolasi menggunakan bendungan darurat yang terbuat dari karung dan telah didesain sedemikian rupa. Arus air dihalangi atau dibelokkan arahnya oleh bendungan tersebut.

Hal itu terancang rapi bagai skenario sinetron. Evakuasi berjalan cepat karena persiapan matang dan kesigapan pemerintah yang luar biasa (untuk ukuran Indonesia). Ternyata, siklus banjir yang dialami Praha berlangsung dalam rentang 50-an tahun!

Memalukan

Menyaksikan ibukota negara yang tak berdaya melawan banjir sungguh memalukan. Bagaimana pandangan bangsa lain melihat Indonesia dengan ibukota negara yang dilanda bah?

Siapa pun akan berpikir, ibukota negara yang serba wah saja kewalahan apalagi daerah terpencil. Dipastikan bencana yang mudah terjadi di negeri kita akan terus menggerus kerugian dan korban dalam skala tak terbatas. Jangan dibayangkan bahwa banjir yang sekarang adalah yang terakhir atau yang terbesar yang pernah terjadi.

Apabila di masa-masa mendatang banjir tak juga mampu diatasi dan semakin besar intensitasnya, siapa bisa menjamin perekonomian Jakarta tidak terusik gara-gara banjir? Padahal, putaran dana di kota metropolitan itu mencapai 70% dari seluruh arus keuangan secara nasional.

Melalui "momentum" banjir di Jakarta pada awal Februari (dan masih terasa efeknya hingga kini) ada baiknya kita merenung dan berpikir: "Bagaimana seandainya ibukota negara Indonesia benar-benar dipindah saja?" Sebagai ibukota, Jakarta terbukti kelebihan beban dan kurang layak lagi menjadi lokomotif bangsa ini.

Wacana ini belakangan ramai diperbincangkan televisi dan koran, namun rupanya sengaja untuk pewacanaan saja, semacam bahan obrolan yang menarik.

Studi lebih lanjut maupun upaya serius meneruskan wacana pemindahan ibukota tak pernah digagas apalagi benar-benar dijalankan.

Semasa pemerintahan Gus Dur, gagasan memindah ibukota negara pernah terlontar.

Kota yang dipilih Gus Dur adalah Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Namun gagasan tinggal gagasan. Ide tersebut dinilai tampak berlebihan, mustahil dan memerlukan biaya superbesar.

Apabila diseriusi, kemungkinan berpindahnya ibukota negara sangat mungkin dan masuk akal. Toh, ibukota negara tak selalu harus kota yang paling besar seperti Amerika Serikat di Wasingthon DC (yang kalah besar dari New York) atau India di New Delhi (kalah oleh Bombay/Mumbay).

Negara jiran Malaysia saat ini tengah mempersiapkan pemindahan ibukota Kuala Lumpur ke Putra Jaya. Bahkan Putra Jaya ini kota yang benar-benar baru. Malaysia lebih memahami pemindahan ibukota akan sangat menguntungkan di masa depan, terutama berkembangnya kota-kota baru dan mengimbangi Kuala Lumpur.

Secara historis pun, Indonesia pernah berpindah ibukota selama dua kali, yakni di Bukittinggi dan Yogyakarta. Jejak historis ini memberi makna bahwa dalam konteks tertentu pemindahan ibukota bukanlah hal yang terlalu mustahil.

Dalam konteks kekinian, Jakarta jelas kelebihan beban, baik pada jumlah penduduk, kendaraan, terlalu sering terkena banjir sampai tujuan investasi.

Memindahkan ibukota akan seperti mengurangi beban yang ditanggung Jakarta. Tujuan urbanisasi semakin variatif dan berpotensi mengembangkan kota/kawan lain di luar Jakarta, bahkan di luar Jawa.

Rencana pemindahan ibukota boleh mencontoh Malaysia yang dilangsungkan secara bertahap dan membutuhkan waktu cukup lama untuk persiapan segala sesuatu. Hanya saja, masalahnya memang ada banyak pihak yang merasa diuntungkan oleh keberadaan ibukota di Jakarta. Banyak pihak itu, sayangnya berada di posisi menentukan

12 komentar:

mikelle mengatakan...

Hello dear friend, thank you very much for your visit, have a wonderful Monday :)

EKA IKHSANUDIN, S.Pd mengatakan...

Kira2 mau dipindah kemana ya ....????.....

mieny_angel mengatakan...

asal jangan d'Jogja...kalao d'Jogja takutnya tar rame..aku masih suka Jogja yg sejuk

Serba Blog mengatakan...

wah beneran mau dipindah ya....hehe...
jangan lupa mampir...

Sony mengatakan...

wow new centralcity as long as it has the good conditions for economic and structural development,and transportation reachable i think it wasn't impossible...

as long as they not put the city over the top of mountain.. or in a cave...

Ivan Axel mengatakan...

Ibukota Pindah ? hmm..... mungkin kali...
tapi perlu riset dan ricek... tuh

tatakotanya sudah memenuhi syarat belum...

al-basri mengatakan...

salam,
saya terbaca berita ini sewaktu di Indonesia,
mungkin sudah sampai waktunya pemerintah melihat dengan serius. demi kesejahteraan rakyat juga..

Cybers mengatakan...

WAH BAGUS TUH KALO BISA DI BOGOR AJA HEHEH BIAR DEKET RUMAH GW :d

Cybers mengatakan...

FOLOW BALIK YA SOB :d

M. Teguh G. mengatakan...

untuk keseimbangan pembangunan kayanya bisa ke kalimantan.. hehe :D

http://morethangrey.blogspot.com/2010/08/ayo-bayangkan.html

Teguh Haryanto mengatakan...

Sebenernya sob, walau tidak pindah sekalipun, kemungkinan besar akan bisa menjawab semua permasalahan walau tidak semudah membalikkan tangan, selaku warga Depok yg setiap harinya ke Jakarta, saya begitu merasakan ya sema permasalahan itu, terutama macet, walau masih ada kegundahan hati soal keamanan n kebersihan. gua yakin banget sob, kalau aja warga Jakartanya sendiri MELEK buat ngaca, apa dy disiplin gag sih??? kalau sudah berlaku disiplin secara menyeluruh dari lpisan bwah mpe atas, w yakin tuh yg namanya banjir, macet kejahatan bisa dibendung. tapi soal pindah w setuju selama nanti dikota yang bakal jadi ibukota yg baru bakal jadi se Maju jakarta. asal jgn tambah ngerusak aja

gag ketemu yah bannernya di tempat saya? sekedar saran ya sob,, kalau blogwalking jangan cuma absen di c box aja, review lah semua sudut sahagat yg sedang di blogwalkinging,, saya juga lagi belajar berlaku demikian sehingga saya borkomentar disini karena saya nyimak postingan sobat.

sob kalu kao mau bertukar link ato banner dengan saya, kunjungi saya di sini

m.badru.tamam mengatakan...

jangan sampai pindah !!!

Posting Komentar